selalu semangat

hidup memang tak seindah angan
suka dan duka datang silih berganti
namun itulah hidup..
jika tiada duka,suka pun tiada artinya
semuanya harus dijalani dengan tabah dan syukur..
karena masih ada pelangi sehabis hujan..

Selasa, 26 Juni 2012

pemeriksaan sifilis

PEMERIKSAAN PENYAKIT SIFILIS
I.    DASAR TEORI
Sifilis adalah penyakit menular seksual yang disebabkan oleh Treponemal palidum.Penularan melalui kontak seksual, melalui kontak langsung dan kongenital sifilis (melalui ibu ke anak dalam uterus).
Penyakit sifilis adalah penyakit kelamin yang bersifat kronis dan menahun walaupun frekuensi penyakit ini mulai menurun, tapi masih merupakan penyakit yang berbahaya karena dapat menyerang seluruh organ tubuh termasuk sistem peredaran darah, saraf dan dapat ditularkan oleh ibu hamil kepada bayi yang di kandungnya. Sehingga menyebabkan kelainan bawaan pada bayi tersebut. Sifilis sering disebut sebagai “Lues Raja Singa”.

Gejala dan tanda-tanda sifilis
Banyak dari para penderita sifilis yang tidak menyadari jika mereka terkena sifilis dan karena itu mereka tidak mendapat pengobatan yang baik. Infeksi terutama didapat apabila ada kontak langsung dengan luka terbuka sifilis yang sedang aktif.

Sifilis mempunyai beberapa stadium infeksi. Setelah terinfeksi dengan sifilis, ada masa inkubasi, yaitu masa sampai sebelum timbulnya gejala luka terbuka yang disebut ”chancre” sekitar 9-90 hari, umumnya rata-rata saat 21 hari sudah terlihat.

Stadium pertama sifilis bisa ada sebuah luka terbuka yang disebut chancre di daerah genital, rektal, atau mulut. Luka terbuka ini tidak terasa sakit. Pembesaran kelenjar limfe bisa saja muncul. Seorang penderita bisa saja tidak merasakan sakitnya dan biasanya luka ini sembuh dengan sendirinya dalam waktu 4-6 minggu, maka dari itu penderita biasanya tidak akan datang ke dokter untuk berobat, tetapi bukan berarti sifilis ini menghilang, tapi tetap beredar di dalam tubuh. Jika tidak diatasi dengan baik, akan berlanjut hingga stadium selanjutnya.

Stadium kedua muncul sekitar 1-6 bulan (rata-rata sekitar 6-8 minggu) setelah infeksi pertama, ada beberapa manifestasi yang berbeda pada stadium kedua ini. Suatu ruam kemerahan bisa saja timbul tanpa disertai rasa gatal di bagian-bagian tertentu,seperti telapak tangan dan kaki, atau area lembab, seperti skrotum dan bibir vagina. Selain ruam ini, timbul gejala-gejala lainnya, seperti demam, pembesaran kelenjar getah bening, sakit tenggorokan, sakit kepala, kehilangan berat badan, nyeri otot, dan perlu diketahui bahwa gejala dan tanda dari infeksi kedua sifilis ini juga akan bisa hilang dengan sendirinya, tapi juga perlu diingat bahwa ini bukan berarti sifilis hilang dari tubuh Anda, tapi infeksinya berlanjut hingga stadium laten.

Stadium laten adalah stadium di mana jika diperiksa dengan tes laboratorium, hasilnya positif, tetapi gejala dan tanda bisa ada ataupun tidak. Stadium laten ini juga dibagi sebagai stadium awal dan akhir laten. Dinyatakan sebagai sifilis laten awal ketika sifilis sudah berada di dalam badan selama dua tahun atau kurang dari infeksi pertama dengan atau tanpa gejala. Sedangkan sifilis laten akhir jika sudah menderita selama dua tahun atau lebih dari infeksi pertama tanpa adanya bukti gejala klinis. Pada praktiknya, sering kali tidak diketahui kapan mulai terkena sehingga sering kali harus diasumsikan bahwa penderita sudah sampai stadium laten.

Sifilis tersier yang muncul pada 1/3 dari penderita yang tidak ditangani dengan baik. Biasanya timbul 1-10 tahun setelah infeksi awal, tetapi pada beberapa kasus bisa sampai 50 tahun baru timbul, stadium ini bisa dilihat dengan tanda-tanda timbul benjolan seperti tumor yang lunak. Pada stadium ini, banyak kerusakan organ yang bisa terjadi, mulai dari kerusakan tulang, saraf, otak, otot, mata, jantung, dan organ lainnya.
   
Dari segi imunoassai, suatu infeksi dengan T.pallida yang dikenal sebagai pengobatan dari Sifilis akan menimbulkan 2 jenis antibody sebai berikut :

Antibodi nontreponemal atau regain sebagai akibat dari sifilis atau penyakit infeksi yang lain.
Antibodi ini baru terbentuk setelah penyakit menyebar kekelenjar limfe regional dan menyebabkan kerusakan jaringan. Antibodi ini membrikan reaksi silang dengan beberapa antigen dari jaringan lain seperti misalnya dengan antigen lipoid dari ekstrak otot jantung.

Antibodi treponemal yang bereaksi dengan T.pallida dan closely related Strains. Dalam golongan antibody ini dapat dibedakan 2 jenis antibody yaitu:
Group Treponemal antibody, yaitu antibody terhadap antigen somatic yang dimiliki oleh semua Treponemal.
Antibodi terponemal yang spesifik, yaitu antibody terhadap antigen spesifik dari T.pallidum.

II.    PRINSIP
Tes SRPR adalah sebuah tes yang berdasarkan atas reaksi flokulasi non treponemal yang digunakan untuk mendeteksi antibody regain yang timbul pada penyakit Sypilis. Antigen RPR yang digunakan dalam Kit ini adalah modifikasi dari antigen VDRL dimana mengandung partikel arang khusus untuk memperbesar perbedaan antara hasil positif dengan negatif secara Visual.
III.    METODE
-Floculasi(VDRL/RPR)
-Hemaglutinasi Assay (TPHA)

IV.    ALAT & BAHAN
    Isi Kit.
AGS 1 atau 5 x 1,6 ml Suspensi Antigen RPR (tutup merah)
Suspensi Cardiolipin, mengandung Mikro arang khusus 0,3%, Na.Azide 0,095%
PC 0,5 atau 1 ml Kontrol serum positif (penetes merah)
Reaktif terhadap Antigen RPR (manusia), Na.Azide 0,095%
NC 1 ml Kontrol serum negatif (Penetes Hijau)
Tidak reaktif terhadap antigen RPR. Na.Azide 0,095%

    Alat Yang Digunakan
- Kertas dengan 10 petakan
- Jarum untuk AGS (16ul)
- Botol dispensi

    Spesimen/Sampel
- Plasma, serum (dipanaskan atau tidak), Bebas hemolisis dan kontaminasi
- Srum segar bisa disimpan selama 5 hari pada suhu 2-80C atau 4 minggu pada suhu –20oC

V.    PROSEDUR
    Tes Kualitatif
Bawa AGS,PC,NC dan sampel kesuhu ruangan. AGS campur dengan baik, suspensi harus benar-benar homogen sebelum digunakan.
Letakkan pada petak-petak berpisah pada kertas menggunakan penetes atau penyalur serum dan lebarkan cairan hingga memenuhi area :
Sampel 1 tetes (50 ul)
PC 1 tetes
NC 1 tetes
AGS Masing-masing 1 tetes
Miringkan kartu tes dengan lambat selama 8 menit atau letakkan diatas rotator 100rpm selama 8 menit.

    Tes Semikuantitati
Encerkan sampel dengan NaCl 0,9% berturut-turut 1:2, 1:4, 1:8, 1:16, 1:32,Kemudian lanjutkan seperti pada tes kualitatif.

VI.    Interpretasi Hasil
    Tes Kualitatif
- Reaktif®gumpalan besar
- Reaktif sangat lemah®Gumpalan kecil
- Non reaktif®Tidak ada gumpalan atau sangat halus
    Tes Semikuantitatif
Pengenceran terakhir yang masih positif.
   
VII.    Kesimpulan
Jika terjadi gumpalan besar hasilnya positif(reaktif),jika gumpalan kecil berarti reaktif sangat lemah, dan jika tidak ada gumpalan atau sangat halus berarti non reakatif.




   


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar